Suplementasi Vitamin A – Blog AhliGiziID

Suplementasi Vitamin A - Blog AhliGiziID

Bulan Agustus merupkan bulan pemberian vitamin A bagi bayi dan balita. Seberapa penting sich suplementasi vitamin A bagi bayi dan balita? Kita simak di artikel berikut.

Kurang Vitamin A

Kurang vitamin A (KVA) merupakan masalah gizi utama yang masih terjadi di Indonesia dengan kriteria serum retinol darah < 20 µg/dL atau < 0,7 µmol/L. Masalah kekurangan vitamin A tingkat berat seperti xeroftalmia sudah jarang terjadi, KVA tingkat subklinis atau tingkatan yang belum menampakkan gejala nyata masih menimpa masyarakat terutama kelompok balita. Vitamin A memilki peranan penting dalam fungsi normal sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu pada saat terjadi defisiensi vitamin A imunitas akan terganggu, akibatnya infeksi penyakit akan meningkat. Kekurangan vitamin A meningkatkan resiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran pernafasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak, serta menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, dan  yang  paling  mengkhawatirkan merupakan risiko tinggi terjadinya xerophthalmia dan kebutaan.​1​

https://images.app.goo.gl/bjbqz2aqXsY1xgDE7

Faktor Risiko KVA

Kelompok yang paling rentan terhadap kekurangan vitamin A yaitu bayi, anak-anak prasekolah, dan wanita hamil. Penyebab utama dari kurang vitamin A adalah asupan makanan yang tidak memadai. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor risiko utama yaitu kekurangan gizi dan adanya infeksi. Malnutrisi mencakup defisit dalam asupan makanan kaya vitamin A, serta konsumsi makanan yang mengandung zat gizi penting untuk penyerapannya. Asupan makanan dipengaruhi oleh faktor budaya, seperti kebiasaan makan, preferensi individu, dan keluarga, selain itu faktor sosial ekonomi mempengaruhi kapasitas untuk memilih dan membeli makanan.​2​

Penelitian yang dilakukan pada wanita hamil di China, menyatakan bahwa usia kehamilan pada trimester dua dan tiga lebih berpeluang mengalami KVA. Dalam penelitian tersebut, serum retinol menurun secara signifikan sekitar 13% dari trimester pertama ke trimester ketiga. Hal ini menyatakan bahwa semakin meningkatnya usia kehamilan serum retinol mengalami penurunan sedangkan volume plasma mengalami peningkatan.​3​

Penelitian lain mengenai faktor risiko terjadinya KVA dilakukan pada wanita postpartum, wanita postpartum yang selama kehamilannya tidak mengkonsumsi suplementasi multivitamin memiliki tingkat vitamin A dalam serum dan kolostrum yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita postpartum yang mengonsumsi suplemen multivitamin selama kehamilan. Hal ini disebabkan rendahnya pendapatan wanita postpartum yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk membeli multivitamin.​4​

Penyebab KVA
Sumber : http://www.nzdl.org

Penanggulangan KVA

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangan masalah KVA, seperti :

  • Pemberian Program Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P)

PMT Pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan utama sehari-hari. PMT Pemulihan dimaksud berbasis bahan makanan lokal dengan menu khas daerah yang disesuaikan dengan kondisi
setempat. Tiap 100 gram PMT mengandung 450 kalori, 14 gram lemak, 9 gram protein, dan 71 gram karbohidrat. Pemerintah memberikan PMT pada balita berupa biskuit. PMT Balita mengandung 10 vitamin (vitamin A, B1, B2, B3, B6, B9, B12, D, E, K) dan 7 mineral (besi, zink, fosfor, selenium, dan kalsium). Setiap bungkus PMT Balita terdiri dari 12 keping biskuit atau 540 kalori (45 kalori per biskuit). Usia 6-11 bulan diberikan 8 keping per hari selama 1 bulan dan usia 12-59 bulan diberikan 12 keping per hari selama 1 bulan. Bila berat badan telah sesuai, pemberian PMT Balita dihentikan dan untuk selanjutnya mengonsumsi makanan keluarga gizi simbang.​5​

  • Fortifikasi terhadap beberapa produk pangan yang mampu dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat

Fortifikasi merupakan penambahan satu atau lebih zat gizi mikro tertentu pada pangan pembawa (vehicle) dengan kadar yang disesuaikan kebutuhan dengan tujuan untuk memperbaiki status gizi masyarakat. Tidak semua bahan makanan dapat difortifikasi dengan vitamin A. Beberapa jenis bahan makanan sehari-hari yang dapat difortifikasi dengan vitamin A, adalah : Minyak Goreng, Tepung Terigu, Gula, Margarin/Mentega dan Susu. Untuk Indonesia dengan alasan tertentu saat ini, Pemerintah mengatur hanya minyak goreng sawit (MGS) yang dianjurkan untuk difortifikasi dengan vitamin A.​6​

  • Pemberian kapsul  vitamin  A

Pemberian kapsul vitamin A diberikan kepada bayi, anak balita, dan ibu nifas untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian pada balita dengan kekurangan vitamin A.

Suplementasi Vitamin A

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2015 tentang Standar Kapsul Vitamin A bagi Bayi, anak Balita, dan Ibu Nifas, kapsul vitamin A merupakan kapsul lunak dengan ujung (nipple) yang dapat digunting, tidak transparan (opaque), dan mudah untuk dikonsumsi, termasuk masuk ke dalam mulut balita.  Kapsul vitamin A diberikan kepada bayi, anak balita, dan ibu nifas.​7​

https://images.app.goo.gl/RewjVeCKJkuTUQA38

Sesuai dengan Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A waktu pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan anak balita dilaksanakan serentak pada bulan Februari atau Agustus. Frekuensi pemberian vitamin A pada bayi 6-11 bulan adalah 1 kali sedangkan pada anak balita 12-59 bulan sebanyak 2 kali. Pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas dilakukan sebanyak 2 kali yaitu satu kapsul segera setelah saat persalinan dan satu kapsul lagi pada 24 jam setelah pemberian kapsul pertama.

Berdasarkan profil Kesehatan Indonesia tahun 2019, Yogyakarta merupakan provinsi tertinggi untuk cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita (100%) dan Papua paling rendah (32%), namun untuk provinsi Maluku Utara dan Papua Barat belum tersedia data cakupan vitamin A. Agar cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita serta ibu nifas terpenuhi, beberapa hal berikut perlu diperhatikan : ​8​

  1. Peningkatan upaya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) gizi yang bersifat masal. Artinya masyarakat harus diarahkan untuk mengetahui, memahami, sampai akhirnya berperilaku mendukung program suplementasi vitamin A. Jalur dan media yang dipakai hendaknya juga lebih inovatif dan bervariasi.
  2. Konseling gizi di berbagai instansi terhadap sasaran ibu anak
  3. Pembangunan infrastruktur, termasuk sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau
  4. Dukungan lintas program, bahkan lintas sektor
  5. Perlunya sweeping dari kader kesehatan dengan sasaran ibu dan anak yang belum mendapat kapsul vitamin A pada bulan pemberian kapsul vitamin A

Suplementasi vitamin A bagi bayi balita memerlukan dukungan dari berbagai pihak terutama Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat untuk mencapai cakupan vitamin A yang baik.

Referensi

  1. 1.

    de Cássia Ribeiro-Silva R, Nunes IL, Assis AMO. Prevalence and factors associated with vitamin A deficiency in children and adolescents. Jornal de Pediatria. Published online September 2014:486-492. doi:10.1016/j.jped.2014.01.014

  2. 2.

    Vitamin A deficiency and associated factors in preschoolers from the outskirts of La Plata, Buenos Aires. Arch Argent Pediat. Published online February 1, 2019. doi:10.5546/aap.2019.eng.19

  3. 3.

    Yang C, Chen J, Liu Z, Yun C, Piao J, Yang X. Prevalence and influence factors of vitamin A deficiency of Chinese pregnant women. Nutr J. Published online December 2015. doi:10.1186/s12937-016-0131-7

  4. 4.

    Gurgel CSS, Grilo EC, Lira LQ, et al. Vitamin A nutritional status in high- and low-income postpartum women and its effect on colostrum and the requirements of the term newborn. Jornal de Pediatria. Published online March 2018:207-215. doi:10.1016/j.jped.2017.08.003

  5. 7.

    Kemenkes R. Permenkes No 21 Tahun 2015. Kemenkes RI; 2015:1-6.

  6. 8.

    Budiono I. Pengembangan Model Indeks Pembangunan Gizi. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2013;8(2):166-175.