Persepsi dan Preferensi Rasa pada Bayi

Persepsi dan Preferensi Rasa pada Bayi

Bagaimana preferensi rasa pada bayi? Apakah bayi lebih menyukai rasa manis,pahit, asam, asin, atau gurih? Mari kita simak bersama.

Persepsi Rasa dan Aroma

Rasa adalah penentu kuat perilaku konsumtif manusia. Studi perilaku dengan menggunakan berbagai teknik menunjukkan bahwa perkembangan rasa pada trimester terakhir kehamilan mampu mendeteksi dan mengkomunikasikan informasi ke struktur sistem saraf pusat yang bertanggung jawab untuk mengatur dan mengendalikan perilaku afektif. Demikian pula, olfaktorius dan sel-sel reseptor berfungsi pada trimester terakhir. Mengingat perkembangan prenatal yang luas dari sistem kemosensori tidak mengherankan bahwa bayi baru lahir sensitif dan responsif terhadap bau, rasa, dan perangsang rasa saat lahir.​1​

Respons terhadap Rasa Manis dan Pahit

Preferensi untuk rasa dasar adalah penentu utama pilihan makanan anak-anak dan pola penerimaan. Anak-anak hidup di dunia sensorik mereka sendiri, dengan kepekaan dan preferensi mereka untuk selera berubah sepanjang masa kecil.​1​ Penelitian telah mengungkapkan bahwa bayi yang baru lahir dapat membedakan dan merespon secara berbeda terhadap rasa dasar dengan memancarkan kombinasi respons konsumatif dan refleksif, seperti ekspresi wajah yang mencerminkan reaksi hedonis atau ketidaksukaan.​2​

Respons orofasial bayi baru lahir terhadap rasa manis sukrosa 0,73 M (kiri) dan rasa pahit 0,003 M kuinin (kanan) sekitar 2 jam setelah lahir, sebelum pemberian makanan pasca kelahiran.​1​
Rasa yang enak, seperti sukrosa,  menimbulkan reaksi selera. Mencicipi sukrosa memunculkan relaksasi wajah, gerakan mengisap, dan kadang-kadang tersenyum pada bayi baru lahir. 

Penelitian menunjukkan bahwa bayi lebih suka mengkonsumsi larutan rasa manis. Untuk bayi, laktosa yang ditemukan dalam ASI juga dapat dimetabolisme untuk menyediakan energi glukosa. Pengalaman awal ini dapat mempersiapkan bayi baru lahir untuk mendeteksi dan menerima rasa dasar manis yang ditemukan dalam ASI, yang berkontribusi pada kelangsungan hidup mereka.​1​ Preferensi untuk rasa manis tetap tinggi sepanjang masa kanak-kanak dan menurun selama remaja akhir.​2​

Preferensi rasa pahit tampaknya tidak disukai oleh bayi saat lahir. Mereka menganga ketika larutan kina pahit ditempatkan di lidah. Sensitivitas terhadap kelas rasa pahit seperti ini dapat berkontribusi terhadap berkurangnya penerimaan sayuran selama masa kanak-kanak.​1​ Tes konsumsi menunjukkan bahwa penolakan konsentrasi pahit rendah hingga sedang, tidak terbukti sampai minggu ke-2 kehidupan. Meskipun reaksi awal terhadap rasa pahit negatif, untuk beberapa anak, respons ini berubah pada usia 18 bulan. Penolakan rasa pahit dan asam diduga menghambat konsumsi zat-zat berbahaya seperti racun, banyak di antaranya pahit.​2​

Bayi baru lahir merespons dengan ketidakpedulian terhadap rasa asin. Kemampuan untuk mendeteksi dan merespons garam terjadi antara usia 2 dan 6 bulan yang kemungkinan merupakan akibat dari maturasi mekanisme pendeteksian garam setelah kelahiran.​2​

Pembelajaran Sensorik:Kisah Pahit-Manis

Berdasarkan sejarah evolusi, dikatakan bahwa persepsi dan preferensi makanan tersebut sebagian besar terbentuk oleh ekologi dari nenek moyang kita untuk beradaptasi dengan lingkungan tertentu yang menyediakan beberapa jenis makanan, sehingga selera manusia terhadap rasa berubah, yang berlanjut hingga ke tingkat gen. Preferensi terhadap rasa manis tersebut diperkirakan telah menarik kita kepada konsumsi gula sebagai penyedia energi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan.​1​

Saat ini perubahan pola makan telah terjadi secara signifikan, termasuk meningkatnya jumlah restoran cepat saji, serta tersedianya pilihan makanan dengan harga yang murah dan padat energi. Perubahan ini disebabkan salah satunya oleh peran strategi marketing yang menyasar preferensi bawaan pada anak terhadap rasa manis. Preferensi terhadap rasa manis tersebut dapat diperoleh dengan mudah melalui paparan rasa manis yang diberikan pada usia dini.

Apabila preferensi anak terhadap rasa manis dapat ditingkatkan, maka preferensi anak terhadap makanan sehat juga dapat meningkat apabila diberikan paparan rasa makanan sehat tersebut pada usia dini.Pengenalan rasa dari makanan sehat yang dimulai sebelum bayi lahir dan dilanjutkan selama masa perkembangannya dan dilakukan secara berulang dan bervariasi, dapat meningkatkan penerimaan dan konsumsi makanan tersebut pada periode usia setelahnya.​1​

Cairan Amnion dan ASI

Selama perkembangan janin, bayi sudah peka terhadap profil rasa yang berubah-ubah, yaitu sejak trimester ketiga, reseptor perasa dan penciuman bayi telah berfungsi dengan baik. Selama berada di kandungan, diketahui bahwa bayi menelan air ketuban sekitar 500-1.000 mL per harinya. Setelah bayi itu lahir, ia akan terpapar dengan makanan yang umumnya berbasis susu, seperti ASI dan/atau susu formula.​1​

Rasa pada ASI, termasuk air ketuban mampu merefleksikan asupan makanan dari ibu.​1​

Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengkonsumsi jus wortel selama 3 minggu berturut-turut pada trimester terakhir kehamilan atau selama menyusui menunjukkan bayi yang lebih menyukai wortel daripada kelompok kontrol yang membatasi konsumsi wortelnya. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa ibu yang memberikan ASI eksklusif dengan konsumsi buah dan sayur secara teratur memperlihatkan bayi yang lebih menyukai buah dan sayur daripada kelompok kontrol yang tidak menerima ASI, melainkan hanya susu formula. Anak-anak yang mendapatkan ASI juga lebih dapat menerima terhadap makanan baru dan cenderung tidak memilah milih makanan ketika bertambah dewasa, terutama jika ibu mereka konsumsi makanan yang bervariasi.​3​

Susu Formula

Pengalaman paparan rasa awal bayi yang diberi susu formula sangat berbeda dengan bayi yang diberi ASI. Anak-anak yang diberi susu formula tidak mendapatkan manfaat dari profil rasa ASI yang selalu berubah. Variasi rasa mereka lebih monoton dan tidak memiliki variasi dari asupan makanan ibu. Meskipun kurang variasi, tetapi terdapat perbedaan rasa dalam berbagai jenis dan merek susu formula karena perbedaan pada komposisi dan pemrosesan.​1,4​

Susu formula berbasis sapi (CMF) menggambarkan tingkat rasa manis yang rendah dengan karakteristik asam seperti sereal, sedangkan formula berbasis protein kedelai memiliki rasa yang manis, asam, dan pahit. Susu formula hidrolisat ekstensif (ePHF) digunakan pada anak yang tidak dapat mentoleransi protein secara utuh atau alergi susu sapi. ePHF mengandung asam amino bebas yang tinggi sehingga memberikan profil rasa gurih, pahit, dan asam, serta volatile bau yang kurang sedap.​5​

Bayi mengembangkan preferensi rasa yang mencerminkan jenis formula yang dikonsumsi. Bayi yang diberi ePHF menunjukkan ekspresi yang lebih sedikit terhadap ketidaksukaan makanan dengan rasa pahit, asam, dan gurih saat menyusui dibandingkan yang diberikan CMF. Penelitian menunjukkan bahwa penerimaan makanan bayi pada saat proses penyapihan berhubungan dengan aroma dan selera rasa yang diterima bayi selama pemberian susu formula yang bergantung pada jenis dan merek susu formula yang diberikan.​1,4,5​

Menurut pedoman WHO, masa pengenalan makanan pada bayi juga harus memerhatikan kandungan gizinya karena berpengaruh pada prefensi makanan di masa depan. Salah satu contohnya adalah harus menghindari makanan dan minuman yang tinggi gula karena akan menyebabkan anak akan lebih memilih makanan dan minuman manis serta menurunkan minat anak terhadap makanan yang lebih bergizi. Oleh karena itu, orang tua atau pengasuh harus melatih tingkat penerimaan anak terhadap berbagai jenis makanan yang bergizi sejak masa pemberian MP-ASI agar kedepannya anak tidak memiliki masalah dalam mengnsumsi makanan bergizi.​1,2​

https://pixabay.com/id/photos/anak-anak-anak-makanan-sehat-1566470/
https://pixabay.com/id/photos/anak-anak-anak-makanan-sehat-1566470/

Memberikan berbagai macam tekstur dan flavor pada bayi dapat meningkatkan kemauan bayi dalam mengonsumsi novel foods, yaitu makanan yang sama sekali belum pernah ia konsumsi. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak memerlukan 8-10 kali eksposur dari suatu rasa untuk dapat meningkatkan tingkat penerimaan rasa tersebut.​1​

Orang tua memegang peranan penting untuk mengenalkan preferensi rasa dan aroma pada bayi terutama terkait pengenalan makanan sehat agar ke depannya anak tidak mengalami masalah terkait konsumsi makanan bergizi.

Referensi

  1. 1.

    Forestell CA. Flavor Perception and Preference Development in Human Infants. Ann Nutr Metab. Published online 2017:17-25. doi:10.1159/000478759

  2. 2.

    Forestell CA. The Development of Flavor Perception and Acceptance: The Roles of Nature and Nurture. In: Preventive Aspects of Early Nutrition. S. Karger AG; :135-143. doi:10.1159/000439504

  3. 3.

    Mennella JA, Jagnow CP, Beauchamp GK. Prenatal and Postnatal Flavor Learning by Human Infants. PEDIATRICS. Published online June 1, 2001:e88-e88. doi:10.1542/peds.107.6.e88

  4. 4.

    De Cosmi V, Scaglioni S, Agostoni C. Early Taste Experiences and Later Food Choices. Nutrients. Published online February 4, 2017:107. doi:10.3390/nu9020107

  5. 5.

    Dunn RL, Lessen R. The Influence of Human Milk on Flavor and Food Preferences. Curr Nutr Rep. Published online May 5, 2017:134-140. doi:10.1007/s13668-017-0200-3