Diet Intermittent Sehatkah?

Diet Intermittent Sehatkah?

Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. Tujuan diperingati hari ini adalah munculnya kesadaran akan masalah gizi buruk akibat kekurangan pangan dan obesitas. Dalam perkembangan zaman, semakin banyak diet yang berkembang tidak hanya digunakan untuk terapi suatu penyakit, namun juga untuk menjaga atau menurunkan berat badan. Salah satu diet yang sudah mulai dikenal dan dilakukan oleh masyarakat adalah diet 5:2 atau diet intermittent.

Definisi

Diet 5:2 / intermittent adalah diet yang dilakukan dengan membatasi asupan kalori atau dapat berpuasa selama 2 hari dalam 1 minggu dan makan dengan normal pada 5 hari lainnya. Diet ini memungkinkan seseorang menurunkan berat badannya tanpa merasakan beban yang terlalu berat karena dalam diet ini seseorang dapat tetap makan normal selama 5 hari. diet ini dikatakan dapat menurunkan total asupan kalori keseluruhan sebanyak 25%.​1​

Manfaat

Manfaat dari diet 5:2 atau diet intermitten adalah sebagai berikut:​2​

  • Menurunkan HDL& trigliserida serta meningkatkan LDL
  • Menurunkan tekanan darah dan inflamasi
  • Menghambat risiko kanker (pertumbuhan dan perkembangan tumor)
  • Meningkatkan pembakaran lemak
  • Memperbaiki komposisi tubuh
  • Memperbaiki sensitivitas insulin
  • Menurunkan kadar glukosa darah

Berbeda dengan pembatasan kalori harian yang biasanya menghasilkan pengurangan lean mass dan fat mass, pada puasa intermiten kehilangan lemak sambil mempertahankan lean mass. Selama masa fasting day, asam lemak akan dilepaskan oleh sel adiposa dan akan masuk ke dalam organ hati. Di dalam hati ini lemak akan diubah menjadi benda keton (β-hidroksibutarat asetoasetat) yang mana akan menyediakan sumber energi oleh sel tubuh dan neuron. Benda keton ini juga memiliki efek menguntungkan untuk sel karena dapat menetralkan proses-proses suatu penyakit. Contohnya adalah benda keton melindungi neuron dari kerusakan dan degenerasi pada model eksperimen untuk epilepsi dan penyakit Alzheimer.​3​

Selain digunakan sebagai sumber energi, badan keton dapat memodulasi jalur pensinyalan dan ekspresi gen. Fasting day dapat meningkatkan kemampuan sel untuk membuang “kotoran” yang ada di molekul tubuh seperti protein atau organel yang rusak dengan proses autofagi dan dapat meningkatkan efek ketahanan dari proses autofagi itu sendiri.​3​

Mekanisme utama puasa dapat melindungi dari cedera jaringan dan penyakit adalah dengan mengaktifkan respons stres seluler adaptif dengan proses berbasis hormon.

Kemampuan lain yang ditingkatkan oleh diet 5:2 adalah meningkatkan kemampuan sel untuk mengeliminasi protein atau organel yang rusak. Diet 5:2 atau intermittent diet ini juga mampu menurunkan kadar sirkulasi leptin dan meningkatkan level adipokinetin, perubahan yang berhubungan dengan perbaikan metabolisme energi dan kardioproteksi. Dalam fasting day, peningkatan sinyal faktor neurotropik di sel otak juga dapat terjadi, yang mana dapat berhubungan dalam kemampuannya untuk meningkatkan neurogenesis hipocampal dan melindungi neuron dari oksidatif dan stres metabolik pada model hewan yang memiliki penyakit Parkinson, Huntington, Alzheimer dan stroke.​3​

Intermittent Fasting dan Homosistein

Kombinasi Intermittent Fasting (IF) dan Calorie Restriction (CR) adalah cara efektif untuk mengurangi berat badan, massa lemak, dan massa lemak viseral pada wanita obesitas. IF dan CR baru ini juga menurunkan indikator utama risiko PJK, seperti kolesterol LDL, trigliserida, dan LDL.​4​

Denyut nadi dan konsentrasi homosistein menurun pada kelompok Intermittent Fasting with Calorie Restriction (IFCR). Penurunan konsentrasi leptin sebagian besar dimediasi dari penurunan massa lemak dan visceral fat mass. Leptin juga berhubungan dengan pembentukan plak aterosklerosis melalui efek biosintesis kolesterol di monosit. Kadar adiponektin juga menurun karena IFCR. Penurunan kadar kolesterol total dan LDL terjadi pada kelompok IFCR. Puasa intermiten dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki indikator risiko penyakit jantung koroner (PJK).​4​

Diet Intermittent dan Aktivitas Fisik

Diet intermitten atau diet 5:2 ini akan semakin baik apabila digabungkan dengan olahraga yang teratur dan konsumsi makanan sumber fitokimia karena dapat menunjukkan pengaruh yang kuat dalam kesehatan, yaitu dengan mendukung jalan respon adaptif stres seluler yang dapat melindungi dan menetralkan penyakit. Olahraga membantu dalam adaptasi lemak. Glikogen terkuras selama tidur dan puasa, dan akan terus berkurang selama olahraga, sehingga dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Makanan yang dikonsumsi akan disimpan secara efisien; sebagian besar disimpan sebagai glikogen di otot, dibakar sebagai energi untuk membantu proses pemulihan dan disimpan sangat sedikit dalam bentuk lemak.​5​

Puasa intermiten yang membatasi konsumsi makanan hingga siang hari dapat meningkatkan biologi sirkadian untuk meningkatkan kesehatan metabolik. Konsumsi sebagian besar energi lebih awal dikaitkan dengan penurunan berat badan dan peningkatan kesehatan. Puasa intermiten dapat secara langsung mempengaruhi mikrobiota usus, yang merupakan komunitas mikroba yang kompleks, beragam, dan luas yang berada di saluran usus.​5​

DIet Intermittent dapat membantu penurunan berat badan serta penurunan konsentrasi glukosa dan insulin.

Referensi

  1. 2.

    Pallavi R, Giorgio M, Pelicci PG. Insights into the beneficial effect of caloric/ dietary restriction for a healthy and prolonged life. Front Physio. Published online 2012. doi:10.3389/fphys.2012.00318

  2. 4.

    Klempel MC, Kroeger CM, Bhutani S, Trepanowski JF, Varady KA. Intermittent fasting combined with calorie restriction is effective for weight loss and cardio-protection in obese women. Nutr J. Published online November 21, 2012. doi:10.1186/1475-2891-11-98

  3. 5.

    Patterson R, Laughlin G, LaCroix A, et al. Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. J Acad Nutr Diet. 2015;115(8):1203-1212. doi:10.1016/j.jand.2015.02.018