Diet Hemodialisis / Cuci Darah

Diet Hemodialisis / Cuci Darah

Pasien ginjal yang sudah mengalami hemodialisis / cuci darah perlu pengaturan khusus terkait diet hemodialisis.

Hemodialisis

Ginjal merupakan organ vital yang mempertahankan keseimbangan lingkungan dalam tubuh. Keseimbangan yang diatur oleh ginjal antara lain cairan, elektrolit dan asam basa dalam tubuh dengan melakukan filtrasi, reabsorbsi air, ekskresi kelebihan, dan zat sisa metabolisme (urea, kreatinin, asam urat) melalui urin. National Kidney Disease Education Program (NKDEP) telah mendefinisikan gagal ginjal kronis (GGK) memiliki Glomerular Filtration Rate (GFR) <60 ml/min/1,73 m2 selama tiga bulan atau lebih dan/ atau albuminuria lebih dari 30 mg albumin urin per gram kreatinin urin. Stage 5 GGK ditandai dengan GFR <15 ml/min/1,73 m2 didefinisikan sebagai fungsi ginjal yang tidak memadai untuk mempertahankan hidup dan membutuhkan inisiasi terapi penggantian ginjal, salah satunya terapi hemodialisis. Hemodialisis adalah suatu jenis terapi penggantian ginjal dimana ureum disaring dari darah oleh membran semipermeable dan dikeluarkan oleh cairan dialisis.​1​

Kandungan cairan dan elektrolit HD mirip dengan plasma normal. Produk sisa dan elektrolit bergerak melalui difusi, ultrafiltrasi, dan osmosis dari darah ke dialisat dan dibuang. Pasien HD rawat jalan biasanya membutuhkan pengobatan selama 3 sampai 5 jam tiga kali seminggu di unit dialisis. Pasien yang lebih sering menjalani terapi dialisis memiliki tingkat mortalitas lebih rendah.​2​

Sumber : Dialysis: how it works. (Modified from Core curriculum for the dialysis technician:
a comprehensive review of hemodialysis, 2001, AMGEN, Inc.)​2​

Tujuan Diet Hemodialisis

  1. Menghindari katabolisme berlebihan
  2. Mencapai status gizi optimal
  3. Mensintesis jaringan yang rusak

Pengaturan Makan pada Hemodialisis

Pasien hemodialisis (HD) membutuhkan diet terkait hemodialisis. Berikut pengaturan makannnya :​1–4​

Pengaturan zat gizi makro pada diet HD

Ketika fungsi ginjal menurun, asupan energi pun cenderung menurun. Kebutuhan energi pada penderita GGK sebesar 30-35 kkal/kgBB/hari.

Pada diet hemodialisis menurut pedoman NKF K/DOQI sebesar 1,0-1,2 gram protein/kgBB dapat diperoleh dari protein dengan nilai biologis tinggi seperti telur, susu, hati sapi, daging sapi, dan kedelai. Pengidap GGK dengan uremia mengalami kelainan dalam pengecapan rasa makanan sehingga dapat ditambahkan bumbu pada pengolahan protein.

Pengidap GGK yang menjalani terapi HD biasanya memiliki LDL normal, HDL rendah, dan peningkatan level trigliserida sehingga untuk kebutuhan lemak dapat mengikuti pedoman dari diet Therapeutic Lifestyle Changes (TLC) yaitu dengan mengonsumsi lemak 25% dari energi, lemak jenuh <7% dari energi, PUFA <10% dari energi, MUFA <20% dari energi, dan kolesterol <200 mg/hari. Pembatasan tersebut disebabkan risiko penyakit arteri koroner cenderung meningkat pada HD.

Pemilihan karbohidrat kompleks dipertimbangkan karena waktu cernanya yang lebih lama dan kenaikan glukosa darah yang lebih lambat saat setelah dikonsumsi dibandingkan dengan efek konsumsi karbohidrat sederhana. Serat pada penyakit ginjal memiliki peran khusus untuk menurunkan kadar plasma urea tanpa harus mengurangi konsumsi protein dengan cara mengurangi produksi amonia oleh mikroba usus besar sehingga produk urea yang diproduksi hati lebih sedikit.

Kebutuhan cairan pada pasien HD bersifat individual dihitung dengan cara Insensibel Water Loss (IWL) 15 ml/kgBB (705ml) + jumlah output urin. Pada pasien HD perlu adanya pembatasan cairan karena cairan yang terlalu banyak dapat menyebabkan perubahan volume darah secara tiba-tiba dan hipotensi selama terapi HD.

Pengaturan zat gizi mikro pada diet HD

Konsumsi kalium pada pengidap GGK dengan HD dibatasi yaitu 2-3 gram/hari karena apabila terjadi hiperkalemia dapat menimbulkan aritmia fatal. Dengan pembatasan tersebut, maka pengidap GGK dengan HD dianjurkan mengonsumsi makanan rendah kalium seperti apel, anggur, jeruk mandarin, pir, stroberi, semangka, kubis, kembang kol, terong, selada, dan jamur

Natrium merupakan kontributor utama yang menentukan besar atau tidaknya osmolalitas serum dan dapat meningkat pada pengidap dengan HD dikarenakan asupan natrium yang berlebih dan dapat berujung pada komplikasi kardiovaskuler akut dan kronis, sehingga perlu pembatasan natrium sekitar <1500 m g/hari. Selain itu, asupan natrium berlebih dapat meningkatkan rasa haus, menyebabkan hipertensi, dan meningkatkan osmolalitas yang berujung pada perubahan GFR.

Hiperfosfatemia adalah salah satu komponen dari GGK, bahkan prevalensinya pada pasien HD cukup tinggi yaitu sebesar 50% yang disebabkan oleh diet tinggi protein yang dijalani dan adanya gangguan metabolisme mineral yang berhubungan dengan penurunan fungsi GFR. Hiperfosfatemia dapat meningkatkan risiko kematian karena meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler, sehingga perlu adanya pembatasan konsumsi fosfor sebesar <800 mg/hari.

Asam folat diberikan pada pasien GGK yang memerlukan hemodialisis karena saat proses hemodialisis, pasien akan kehilangan vitamin larut air melalui membran dialisis. Pemberian asam folat sebesar 2-5 mg/hari untuk menghambat penurunan laju filtrasi glomerolus. Selain itu asam folat mampu memulihkan dan memelihara hematopoiesis yang normal.​5​

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Dibatasi serta Cara Pengolahannya

Diet hemodialisis perlu memperhatikan bahan makanan apa saja yang perlu dibatsi dan terkait cara pengolahan yang aman untuk pasien HD.

Bahan Makanan yang Dianjurkan

  1. Sumber Karbohidrat: nasi, bihun, mie, makaroni, jagng, roti, kwethiau, kentang, tepung-tepungan, madu, sirup, permen, dan gula.
  2. Sumber Protein Hewani: telur, susu, daging, ikan, ayam.
  3. Bahan Makanan Pengganti Protein Hewani Hasil olahan kacang kedele yaitu tempe, tahu, susu kacang kedele, dapat dipakai sebagai pengganti protein hewani untuk pasien yang menyukai sebagai variasi menu atau untuk pasien vegetarian asalkan kebutuhan protein tetap diperhitungkan.
  4. Sumber Lemak: minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedele, margarine rendah garam, mentega.
  5. Sumber Vitamin dan Mineral
  6. Semua sayur dan buah, kecuali jika pasien mengalami hiperkalemi perlu menghindari buah dan sayur tinggi kalium dan perlu pengelolaan khusus yaitu dengan cara merendam sayur dan buah dalam air hangat selama 2 jam, setelah itu air rendaman dibuang, sayur/buah dicuci kembali dengan air yang mengalir dan untuk buah dapat dimasak menjadi stup buah/coktail buah.

Bahan Makanan yang Dibatasi

  1. Hindari sayur dan buah tinggi kalium jika pasien mengalami hiperkalemi. Bahan makanan tinggi kalium diantaranya adalah bayam, gambas, daun singkong, leci, daun pepaya, kelapa muda, pisang, durian, dan nangka.
  2. Hindari/batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites. Bahan makanan tinggi natrium diantaranya adalah garam, vetsin, penyedap rasa/kaldu kering, makanan yang diawetkan, dikalengkan dan diasinkan.

Cara Pengolahan

  1. Semua sayuran harus dimasak dan tidak dianjurkan dimakan dalam keadaan mentah (lalapan)
  2. Bila harus membatasi garam, gunakanlah lebih banyak bumbu-bumbu seperti gula dan bumbu dapur lain
  3. Untuk mengurangi kadar kalium dalam bahan makanan sebaiknya dipotong-potong kecil terlebih dahulu, kemudian direndam dalam air hangat minimal selama 2 jam Air perendaman dibuang dan bahan makanan dicuci dalam air mengalir selama beberapa menit. Setelah itu masaklah (terutama sayuran dan umbi-umbian)
  4. Untuk membatasi banyaknya cairan dalam makanan masakan lebih baik dibuat dalam bentuk tidak berkuah seperti ditumis, dipanggang, dikukus, dibakar, dan digoreng
  5. Cairan lebih baik diberikan dalam bentuk minuman segar

Pasien HD perlu mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil sering (small frequent feeding). Berikut contoh rekomendasi menu diet hemodialisis 1 hari yang teridiri dari 3x makanan utma dan 3x selingan dengan total energi 1500 kkal, protein 61 gram, lemak 47 gram, karbohidrat 219 gram, serat 24 gram, kalium 2 gram, natrium 450 miligram, dan fosfor 700 miligram.

Referensi

  1. 1.

    Nelms M, Sucker K, Lacey K, Roth S. Nutrition Therapy and Pathophysiology . 2nd ed. Cengage Learning Inc; 2011.

  2. 2.

    Mahan L, Raymond J, eds. Krause ‘s : Food & The Nutrition Care Process. 14th ed. Elsevier; 2017.

  3. 3.

    Nayana SA, Balasubramanian T, Nathaliya PM, Nimsha Hussain P, Mohammed Salim KT, Muhammed Lubab P. A cross sectional study on assessment of health related quality of life among end stage renal disease patients undergoing hemodialysis. Clinical Epidemiology and Global Health. Published online September 2017:148-153. doi:10.1016/j.cegh.2016.08.005

  4. 4.

    Ikizler T, Burrowes J, Byham-Gray L, Campbell K. AJKD . 2020;76(3):1-107.

  5. 5.

    Alvionita A, Ayu WD, Masruhim MA. PENGARUH PENGGUNAAN ASAM FOLAT TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE. J Trop Pharm Chem. Published online June 30, 2016:179-184. doi:10.25026/jtpc.v3i3.104