Ahli Gizi Talk 11 : Kolaborasi Epic Antar Sektor Sukseskan Program Gizi di Masa Pandemi

Ahli Gizi Talk 11 : Kolaborasi Epic Antar Sektor Sukseskan Program Gizi di Masa Pandemi
Halo Sobat AhligiziID🖐🏻🖐🏻

Pandemi COVID-19 belum berakhir. Bagaimana pelaksanaan program gizi di masa pandemi? Masalah gizi seperti anemia, ibu hamil KEK, gizi buruk, stunting, bahkan obesitas mungkin akan meningkat akibat pandemi ini.

Yuk gabung dalam AhliGizi Talk #11 seri terakhir di session ini dengan topik :

KOLABORASI EPIC ANTAR SEKTOR SUKSESKAN PROGRAM GIZI DI MASA PANDEMI

Narasumbernya juga keren habis ada Kak Kurnia Dwi Juliani, Ahli Gizi UPT Puskesmas Parigi, Tangerang Selatan

Berikut kita simak videonya.

Download materi : https://drive.google.com/file/d/1cuJp…

Download sertifikat : https://drive.google.com/drive/folder…

Banyak masalah dan tantangan terkait pelaksanaan program gizi di masa pandemi ini. Masalah dan tantangan di Poli Gizi Puskesmas yaitu :

  • Ada kekhawatiran orang tua untuk berkunjung ke puskesmas.
  • Kunjungan balita ke puskesmas akan meningkatkan risiko paparan penyakit.

Upaya penanganan masalah dan tantangan

  • Membuat grup media sosial untuk sasaran.
  • Memberikan informasi penting terkait gizi melalui grup media sosial sasaran dan kader kesehatan.
  • Menjaga jaga jarak 1-2 meter antara petugas dan pasien yang datang.
  • Pasien yang datang wajib menggunakan masker.
  • Petugas menggunakan APD dan waktu konseling dibatasi maksimal 15 menit.

Sedangkan masalah terkait pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu yaitu kegiatan berkumpul dapat meningkatan risiko penyebaran virus dan pengunaan alat kesehatan secara bersamaan dapat meningkatkan penyebaran virus.

Upaya penanganan masalah dan tantangan yang dilakukan

  • Beberapa dilakukan secara berkeliling (Posyandu Keliling).
  • Balita gizi kurang/gizi buruk dipantau dengan kunjungan rumah.
  • Pembatasan penimbangan dalam waktu bersamaan (dibatasi per 5 balita).
  • Penggunaan sarung timbang yang berbeda setiap balita.
  • Penerapan protokol kesehatan oleh semua yang terlibat di posyandu.

Diperlukan kolaborasi antar sektor dan lintas sektor untuk mendukung suksesnya program gizi di masa pandemi ini.

Kolaborasi Internal-Eksternal

  • Sebelum masa pandemi, atas arahan dinas kesehatan, puskesmas menyediakan makanan tambahan berbasis lokal yang ditujukan untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan di posyandu dan sampai sekarang masih berlanjut namun disertai penerapan protokol kesehatan sesuai ketentuan.
  • Selain itu, sebelum masa pandemi, kolaborasi antara puskesmas dan pihak kelurahan setempat juga dilakukan untuk mendukung kegiatan Pos Gizi. Hal ini diharapkan dapat terus terjaga walaupun selama pandemi, kegiatan Pos Gizi belum dapat dilaksanakan.
  • Kami melakukan kolaborasi bersama dengan bidan bina wilayah serta kader posyandu untuk melaksanakan pemantauan tumbuh kembang balita, terutama balita dengan masalah gizi serta ibu hamil. Pemantauan pertumbuhan tumbuh kembang dan kesehatan dapat dilakukan secara mandiri oleh ibu balita, buku KIA dan dilaporkan secara daring kepada kader posyandu ataupun dengan kunjungan rumah oleh kader posyandu. Hasil pemantauan dari kader posyandu dilaporkan kepada bidan bina wilayah dan atau petugas gizi puskesmas.
  • Pemberian makanan tambahan balita dan ibu hamil dilakukan bersama dengan bidan bina wilayah dan kader posyandu.

Kolaborasi Internal-Eksternal

  • Bersama petugas promosi kesehatan puskesmas dilakukan untuk mendukung penyebaran informasi terkait dengan gizi dan kesehatan. Penyampaian informasi dilakukan secara berkeliling ke rumah warga sesuai protokol kesehatan dengan menggunakan media leaflet dan poster.
  • Kolaborasi bersama bidan dan analis kesehatan terkait dengan pencegahan anemia pada remaja salah satunya dengan skrining kadar Hb dalam darah remaja putri.
  • Melakukan kolaborasi bersama dengan beberapa pengelola yayasan yang ditinggali oleh remaja putri untuk terus melakukan pemantauan program tablet tambah darah remaja putri.
  • Kolaborasi dalam upaya perbaikan gizi juga dilakukan bersama beberapa kader posyandu yang memiliki dana desa. Dana desa ini kemudian dialokasikan untuk membeli bahan makanan yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan balita/keluarga kurang mampu dengan masalah gizi.